Sejak saat itu

Lelah sekali rasanya, ya Allah

Menjadi tempat bagi orang rumah untuk bersandar. Rumah tidak dalam keadaan bersih kecuali aku bersihkan. Pakaian tidak akan tercuci kecuali aku mencuci. Dan ketika aku membutuhkan pertolongan, dia sebutkan semua jasanya mencari nafkah. Anak-anak tidak akan belajar kecuali aku ajarkan.

Melayani satu rumah kemudian tersingkir saat berkumpul. Kami berlima, tapi ketika pesan makan pasti hanya 4 porsi. "alasannya karena takut tidak habis". Aku makan terakhir. Disaat semua sudah bergegas pulang. Dia membelikanku satu porsi penuh, hanya ketika anak-anak tidak ikut. Sejak saat itu, aku mulai menyisihkan uang hanya untuk membeli satu porsi makanan, khusus untukku.

Pernah satu ketika, 

Kami makan mie ayam. Lalu tiba-tiba ada seorang peminta-minta berdiri di sebelahku, minta uang. Aku tolak pelan, karena memang aku tidak punya uang sepeserpun. Kalaupun ada, dia SELALU melarang kami memberi pada peminta-minta. Lalu si peminta-minta tadi bersikukuh, "ayo bu, saya belum makan...", katanya sambil terus berdiri disampingku

aku tertunduk, takut.

Suamiku? melanjutkan makan di sampingku

Si peminta-minta itu berkata lagi, "ibu enak makan mie ayam, saya belum makan bu dari kemarin", katanya dengan suara lantang.

Saat itu di tempat mie ayam itu ada pengunjung lain. Tapi hanya aku yang di cecar si peminta-minta itu. Aku sangat ketakutkan sampai mau nangis, dan malu.. karena aku merasa sendirian padahal ada suami disitu.

Sejak saat itu, aku makin yakin, bahwa orang-orang akan merasa kesepian di kuburnya

lalu...

saat haid tiba, aku banyak diam, murung di depan anak-anak, aku mencoba tenang biasa saat didepan suami. Setiap masalah dan keluh kesah aku telan sendiri, karena dia selalu bilang, "bullshit perempuan tuh cerita tanpa minta solusi", sejak saat itu aku berhenti bercerita tentang perasaanku. Dia juga pernah bilang, saat aku haid aku memusingkan. Oleh karena itu, saat haid, aku berusaha untuk tidak terlihat sedang haid sejak saat itu.

Aku banyak mengubur perasaan dan keinginanku. Aku sadar aku sepenuhnya ada di tangan Allah, tapi di dunia ini aku berada di naungan suamiku. Aku harus jalani takdir itu. Tanpa mengeluh, tanpa menjadi seorang manusia yang punya perasaan.

Banyak orang bilang ini berkorban, pengorbanan untuk masa depan, untuk akhirat.

Bagiku, ini hanya survival mode.

Komentar

Postingan Populer