Hati-hati yang terpaut
Ngomongin soal teman... ada dua kejadian yang buat gue senang akhir-akhir ini.
Kejadian pertama.
Sekitar dua bulan lalu, saat sedang pergi berdua dengan suami, kami mampir untuk sholat di masjid dekat rumah. Kemudian usai sholat, karena merasa ditunggu suami, jadi gue bersegera bangun setelah sholat. Saat membalik badan, mata langsung bertemu dengan mata seseorang. Dia terlihat mencerna sebentar "siapa gue", tapi gue langsung sedikit teriak menyebut mata yang gue kenal barusan, "NONOONG!". Tentunya dengan sangat kegirangan gue menghampiri orang tersebut, dia terlihat masih loading karena tiba-tiba ada orang yang dengan heboh menghampiri. "Apa kabaaaar?"
Gue yakin dia masih belum kenal dan ngeh siapa gue.
"Gue lagi sholat sama Atut, lo sama siapa?", setelah nama Atut kesebut, baru dia ngeh dan nyengir lebar.
"Gue sama teman kantor, mau cari makan. Mampir sholat", katanya... dan setelah itu mengalir semuanya. Sampe beberapa kali berniat pisah pun masih ngobrol lagi, ngobrol lagi.
Kejadian kedua
Pulang antar bapak kontrol ke dokter. Mama, Bapak, Fikri dan gue mampir untuk makan ke salah satu restoran sunda deket rumah. Setelah makan, bapak, mama dan gue nunggu Fikri di lobby. Saat nunggu, bapak sempat komentar tentang mobil yang ada di belakang kami. Apa jenisnya dan sebagainya. Tiba-tiba... keluar dari mobil itu, "IKAAA!", teriakannya persis seperti teriakan gue di kejadian pertama.
Gue langsung nengok dan mengenali siapa yang manggil barusan, "Roroooo", then dia cerita bahwa dia ngeh itu gue karena ngeliat bapak dan mama. Dia bilang, "aku ngeh nya karena liat oom dan tante. Dulu aku sering main ke rumah oom", gue langsung sumringah. Bahkan saat ngetik ini gue sambil nyengir ingat gimana rasanya saat itu.
Dari dua kejadian diatas, gue langsung WA keduanya, dengan perkataan yang hampir sama. Bahwa gue seneng ketemu mereka dan sebagainya.
Kedua teman gue di atas, bukan termasuk teman yang paling sering gue kontak. Tapi keduanya punya kesan yang baik di hari-hari gue saat sekolah dulu. Mereka bukan orang yang alim saat itu. Tapi mereka bukan anak-anak yang buruk kelakuannya. Gue ingat gimana sholat 5 waktu itu cuma buat sebagian orang saat sekolah dulu. Dan mereka berdua termasuk ke sebagian orang itu. Mungkin sebab itu juga Allah selipkan rasa bahagia saat ketemu mereka.
Selama ini kami cuma saling bertukar kabar di IG story secara tidak langsung. Mungkin... hehe. Ini yang gue rasain paling tidak.
Gue berharap... rasa senang ini berbuah manis di akhirat kelak. Ada maknanya buat kehidupan gue diakhirat kelak. Dan mereka tentunya..
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”
(HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)


Komentar
Posting Komentar